Postingan

Konfrensi Pers

Gambar
Komunitas Masyarakat Adat Timika 10 Desember 2019 Dalam rangka hari ham sedunia yang jatuh tempo pada 10 desember 2019 Kami yang di timika baik secara induvidu maupun sekumpulan organisasi Komunitas masyarakat adat di timika mengadakan Doa bersama dan konfrensi pers dengan Tema; “Masyarakat adat dalam Kepungan Kapital”. Kami yang kumpul bersama dan menyikapi Hari Ham Se – Dunia dalam beberapa Wadah, Pertama; LEPEMAWI (Suatu Komunitas masyarakat sipil yang berjuang terkait Isu lingkungan di Timika), Kedua; MAI ( Masyarakat adat indenpendent), Ketiga; Komunitas Mahasiswa dan keempat; dari komunitas Pemuda dan Anak jalanan ( PARJAL) Adapun dalam konfrensi pers ini masing masing perwakilan komunitas organisasi masyarakat sipil dan masyarakat adat menyatakan Tuntutan dan pernyataan sikap mereka sesuai dengan isu yang di perjuangkan dalam setiap Visi Misi organisasi Mereka. Ada juga isu bersama yang mereka sikapi terkait dengan kondisi dan situasi Papua pada umumnya dan pada khususn...

Komunitas Adat Timika Soroti Pelanggaran HAM

Gambar
Komunitas Adat yang ada di Timika menyoroti pelanggaran HAM, dimana sejak PT. Freeport Indonesia peroperasi di negeri emas itu, membuat masyarakat adat di Timika terisolasi, nasib masyarakat ada pun kehilangan sumber hidup akibat kerusakan lingkungan.  Momentum Hari Hak Asasi Manusia pada 10 Desember 2019, Masyarakat adat Timika dari berbagai komunitas konfrensi pers terkait pelanggaran HAM.  Adolfina Kuum Ketua Lembaga Peduli Masyarakat Wilayah Mimika Timur Jauh (Lepemawi Timika) Meminta kepada PT. Freeport dan Pemerintah mecari solusi atas kerusakan lingkungan yang terjadi. "PT. Freeport Indonesia  sebagai  pelaku utama  segera mencari solusi bagi masyarakat yang terisolir jalan transportasi laut  ke dua Distrik Agimuga dan Jita di 18 kampung  wilayah Mimika Timur Jauh", katanya 10 Desember 2019. Selain itu, Masyarakat adat juga berharap Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah duduk bersama dengan masyarakat adat yang korban at...

Kembalikan Hak Kami, Hak Atas Tanah Adat Aru

Gambar
Oleh: Hard Darakay Aktivis HAM Aru Part 1 Seiring dengan tuntutan pembangunan di Kab. Kepulauan Aru, kasus perampasan hak atas tanah adat terus meningkat. Tindakan perampasan itu terjadi dalam berbagai bentuk sehingga perlu ketelitian dalam penyelesaiannya.  Melalui artikel sederhana ini, saya sebagai aktifis HAM mencoba menyajikan satu contoh kasus, kemudian menganalisis dari sudut pandang HAM. Pada proses pengkajian ini akan ada beberapa instrument hukum perdata, mungkin juga pidana untuk mempertajam analisis yang dikemukakan. Kasus pertama (Part 1) ini merupakan kasus nyata yang terjadi di Kota Dobo. Namun aktor asli disamarkan, demi menjaga privasi yang bersangkutan. Istilah Jar Juir dan Non Jar Juir dalam tulisan ini merupakan suatu term pembeda antara Suku Asli Aru dan yang bukan Asli Aru. Pembedaan ini tidak bermaksud diskriminasi suku tertentu, tetapi suatu ketegasan tentang subjek yang sedang diceritakan dalam contoh kasus.  Sekali lagi, saya...

ATAS NAMA DEMOKRASI DAN KONSTITUSI BEBASKAN SEPTI MEIDODGA, PEMBELA HAM PAPUA

Gambar
Dua bulan terakhir ini Papua bergejolak tiada henti. Berawal dari tindakan rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang Jawa Timur, aksi balasan penolakan rasisme kemudian meluas di hampir seluruh kota di Indonesia.  Terkhusus di Papua, aksi penolakan rasisme terjadi dengan mobilisasi massa yang sangat besar. Bukan saja mahasiswa, masyarakat biasa asli Papua (OAP) pun turun ke jalan dan menyerukan kutukan terhadap tindakan rasisme.  Sebagai seorang aktifis sekaligus Pembela HAM Papua, Septi Meidodga tidak tinggal diam. Lelaki asli suku Arfak, Papua Barat ini kemudian berniat melakukan aksi damai bersama masyarakat Manokwari, namun naas, sehari sebelum aksi, dirinya sudah ditangkap Polisi Papua Barat. Kronologisnya: - Tanggal 18 september 2019, Septi Meidodga bersama rekannya Thomas Ch. Syufi berkunjung ke Kantor Dewan Adat Papua wilayah lll Doberai yang berada di Jalan Pahlawan, kota Manokwari.  Kedatangan Septi untuk koordinasi aksi damai anti rasisme...

Inspirasi dan Aspirasi Saya Menjadi Pembela HAM

Gambar
Oleh: Adolfina Dolie Kuum Aktifis GeHAM Papua Saya anak kelima dari tujuh bersaudara. Saya lahir di sebuah kampung kecil bernama Agimuga. Agimuga merupakan salah satu distrik yang berada di “lahan emasnya“ Freeport: Timika Agimuga terletak di wilayah dataran rendah, antara pantai dan gunung. Sejak kecil saya terinspirasi cerita tentang ayah saya. Semasa hidupnya ia berjuang demi sekolah. Pada usia 12 tahun dia melarikan diri dari keluarga, dan secara sembunyi-sembunyi mengikuti missi penyebaran agama sampai di wilayah pesisir pantai Omoga, sangat jauh dari keluarga. Tujuan ayah hanya satu: ingin menjadi seperti mereka, para missionaris. Dengan begitu ia jadi manusia yang berpendidikan. Ayah memandang bahwa pendidikan adalah senjata bagi hidupnya. Konon, menurut cerita para orang tua, zaman dulu sangat sulit mendapatkan pendidikan. Tapi ayah saya sebagai seorang anak yatim yang hanya punya mama, saat itu bisa berjuang, demi memperoleh pendidikan. Perjuangan ayah tidak sia-sia...

Mengapa Saya Harus Menulis

Gambar
Oleh: Inda Aktifis GeHAM Bali Mengapa saya menulis? Judul yang diberikan oleh mentor dan harus dituangkan dalam sebuah tulisan. Aku berpikir sejenak dan kembali bertanya pada diriku. Mengapa? Aku seolah tidak menemukan jawaban yang pasti atas pertanyaan tersebut. Bahkan setelah beberapa kali pertanyaaan tersebut kembali aku resapi, hasilnya tetap nihil. Bayangan masa lalu tentang berbagai taktik yang aku gunakan untuk melatih diriku menulis kala itu kembali aku bayangkan. Berharap  aku menemukan satu jawaban yang cukup baik untuk dituangkan dalam sebuah paragraph namun sama saja. Aku tidak menemukan jawaban yang tepat. Semua yg aku lihat disana hanyalah alasan-alasan berhenti menulis, ketika aku berusaha menemukan alasan kenapa aku menulis. Aku pernah menulis atau tepatnya berusaha untuk melatih diriku menulis. Aku mulai menuliskan hal-hal yang aku sukai dan cintai. Aku pernah menulis tentang almarhum ayahku karena aku mencintainya. setelah tulisan tersebut rampung, a...

Mengapa Aku Menulis

Gambar
Oleh: Dara Aktifis GeHAM Aceh Ketika aku masih duduk di Sekolah Dasar, Ayahku membelikanku sebuah buku harian yang kami beli bersama disebuah toko serba lima ribu berjarak tidak jauh dari rumah. Ia mengatakan untuk menuliskan apa yang aku alami sehari-hari di sekolah dan lingkungan bermainku kemudian simpanlah di tempat yang baik agar tidak ada orang yang bisa mengganggunya apalagi adikku yang ketika itu masih kecil dan suka merobek-robekkan buku-buku.  Berangkat dari satu buku  harian pemberian ayahku seharga lima ribu rupiah itu, aku mulai menulis setiap hari sampai lembaran buku itu habis dan kemudian aku terus membelinya lagi dan lagi untuk kembali menulis dari aku kecil hingga remaja. Segala cerita yang tertuang didalamnya beragam, dimulai dari rok sekolahku terkena permen karet, jatuh dari sepeda, rasa kesal pada ibuku, bahkan sampai ketertarikan pada orang lain. Sebagian orang mengatakan bahwa menulis buku harian adalah hal yang tidak penting sama sekali dan ...